Rabu, 23 Oktober 2019

MAKALAH AGAMA ISLAM



BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
    Dizaman modern saat ini Ilmu Pengetahuan sangat dibutuhkan dalam kemajuan suatu bangsa,serta ilmu tersebut akan berpengaruh terhadap taraf ekonomi,sosial,dan intelektual seseorang.Dari tahun ketahun IPTEK sudah berkembang dengan pesat.Bahkan untuk oknum-oknum tertentu IPTEK merupakan suatu kebutuhan primer.
      Islam sangat memperhatikan pentingnya ilmu pengetahuan,teknologi,dan seni dalam kehidupan umat manusia .Martabat manusia disamping ditentukan oleh kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan,teknologi,dan seni.Bahkan didalam Al-Qur´an sendiri Allah menyatakan bahwa hanya orang yang berilmulah yang benar takut kepada Allah.
      IPTEK dan seni dalam praktik mampu mengangakat harkat dan martabat manusia karena melalui IPTEK dan seni manusia mampu melakukan eksplorasi kekayaan alam yang disediakan oleh Allah.Oleh karena itu dalam pengembangan ilmu IPTEK dan seni,nilai-nilai islam tidak boleh diabaikan agar hasil yang diperoleh memberikan kemanfaaatan sesuai dengan fitrah hidup manusia.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana konsep IPTEKS dalam islam?
2.      .Bagaimana tanggungjawab seseorang yang berilmu terhadap alam dan   lingkungan?
3.      Menjelaskan keutamaan orang yang beriman dan beramal?
4.      Bagaimana tanggungjawab seseorang yang berilmu terhadap alam dan lingkungan?


1.3 Tujuan Penulisan
1.      Menjelaskan pengertian IPTEKS dalam pandangan islam
2.      Membedakan antara ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
3.      Menyebutkan sumber pengembangan IPTEK dalam islam
4.      Berperilaku arif dan bijaksana dalam pengembangan dan memanfaatkan produk teknologi dalam kehidupan sehari – hari
5.      Menghindarkan diri dari kesombongan intelektual dan menyadari bahwa pada hakikatnya IPTEKS itu adalah suatu proses pencarian bagaimana sunnatullah itu terjadi di alam semesta.               
  

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni
        2.1.1   Konsep IPTEK dalam Islam
                    Definisi IPTEK
     Berbagai definisi tentang sains, teknologi dan seni telah diberikan  oleh para    filsuf,   ilmuwan, dan budayawan. Seolah – olah mereka mempunyai definisi masing – masing sesuai dengan apa yang mereka senangi.
Menurut Mansoer, Hamdan ,dkk (2004, 9)                
“Pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui manusia melalui tangkapan panca indera,  intuisi, dan filsafat, sedangkan ilmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasikan,  diorganisasikan, disistematikan dan diinterprestasi sehingga menghasilkan kebenaran     obyektif,sudah diuji kebenarannya dan dapat diuji ulang secara ilmiah”. Jadi,pengetahuan adalah segala fenomena alam yang dapat dicapai oleh indera manusia.
Istilah teknologi merupakan produk ilmu pengetahuan.Dalam sudut pandang budaya,merupakan salah satu unsur budaya sebagai hasil penerapan praktis dari ilmu pengetahuan.                                                        Seni merupakan ekspresi jiwa seseorang.Hasil ekspresi jiwa tersebut berkembang menjadi bagian dari budaya manusia.Seni identik dengan keindahan.Keindahan hakiki identik dengan kebenaran.Keduanya memiliki nilai yang sama yaitu keabadian.
  2.1.2 Syarat-syarat Ilmu
Suatu pengetahuan dapat dikategorikan sebagai ilmu apabila memenuhi tiga unsur      pokok sebagai berikut:    
1.Ontologi                                                                       
2.Epistimologi
3.Aksiologi

2.1.3 Sumber Ilmu Pengetahuan          
       Dalam pemikiran islam ada dua sumber ilmu yaitu akal dan wahyu.Keduanya       tidak boleh dipertentangkan.Manusia diberi kebebasan dalam mengembangkan akal budinya bedrdasarkan tuntunan Qur´an dan Sunnah Rosul.Atas dasar itu dalam pemikiran islam terbagi dua sifat:
1.Abadi(perennial knowledge)                                       
2.Perolehan (acquired knowledge)                                                                                             
2.2     Integrasi Iman,Ilmu,dan Amal
          Dalam pandangan islam,antara agama,ilmu pengetahuan,teknologi,dan seni terdapat hubungan yang harmonis dan dinamis yang terintegrasi kedalam suatu sistem yang disebut Dinul Islam.Didalamnya terkaandung tiga unsur pokok yaitu akidah,syariah,dan akhlak dengan kata lain imaan,ilmu,dan amal shalih.Ketiga inti ajaran yaitu    Iman,Ilmu,dan Ikhsan terintegrasi dalam Dinul Islam. Dalam(Qs 14 ibrahim:24-25)dinyatakan
          Artinya:”Tidaklah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpaman kalimat yang baik(Dinul Islam)seperti sebatang pohon yang baik,akarnya kokoh (menghujam kebumi) dan cabangnya (menjulam) kelangit.Pohon itu mengeluarkan buahnya setiap musim dengan seizin Tuhannya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat”.    
Dari ayat diatas menggambarkan keutuhan antara iman,ilmu,dan amal.  Ketiga tersebut tidak dapat dipisahkan antar satu sama lain.Iman diartikan              dengan akar dari sebuah pohon yang menompang tegaknya ajaran islam.Ilmu  diartikan sebagai batang pohon yang mengeluarkan dahan-dahan dan cabang- cabang ilmu pengetahuan sedangkan amal ibarat buah dari pohon itu identik dengan teknologi dan seni. PTEKS yang dikembangkan diatas nilai-nilai iman dan ilmu akan menghasilkan amal shaleh bukan kerusakan alam.
           

2.3     Keutamaan Orang Beriman dan Beramal
Perbuatan baik seseorang tidak akan bernilai amal saleh apabila perbuatan tersebut  tidak dibangun diatas nilai-nilai iman dan ilmu yang benar.Ilmu-ilmu yang dikembangkan atas dasar iman dan ketakwaan kepada Allah swt,akan memberikan kemaslahatan bagi kehidupan umat manusia termasuk bagi lingkungannya. Menurut Al-Ghazali makhluk yang paling mulia adalah manusia,sedangkan  sesuatu yang mulia pada diri manusia adalah hatinya.Tugas utama pendidik adalah  menyempurnakan,membersihkan,dan menggiring peserta didik agar hatinya dekat  kepada Allah swt melalui pengembangan ilmu pengetahuan.

2.4     Tanggungjawab Ilmuwan terhadap Alam dan Lingkungan
Ada dua fungsi utama manusia didunia yaitu”Abdun”(hamba Allah) dan sebagai khalifah Allah dimuka bumi.Esensi dari “Abdun” adalah ketaatan,ketundukan,dan  kepatuhan kepada kebenaran dan keadilan Allah,sedangkan esensi khalifah adalah  adalah tanggungjawab terhadap diri sendiri dan alam lingkungannya,baik lingkungan sosial dan lingkungan alam. Untuk melaksanakan tanggungjawab,manusia diberi keistimewaan berupa kebebasan untuk memilih dan berkreasi sekaligus menghadapkannya dengan tuntunan kodratnya sebagai makhluk psikofisik.Namun ia harus sadar akan keterbatasan-nya yang menuntut ketaatan dan ketundukan terhadap aturan Allah,baik dalam konteks ketaatan terhadap pemerintah beribadah maupun ketaatan terhadap Sunnahtullah”hukum alam”dialam ini.

BAB III
PENUTUP

3.1     Kesimpulan                                                                                                                                Manusia adalah satu-satunya makhluk yang Allah karuniakan akal sebagai alat untuk berpikir.Dengan akal manusia mampu menyerap ilmu pengetahuan dan menciptakan teknologi,serta menghasilkan karya seni,sehingga dapat menciptakan peradaban dimuka bumi.Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui tangkapan  panca indera intuisi dan firasat.Jadi ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni dalam islam sangat mempengaruhi bagi kemajuan agama islam.Serta dengan keimanan dan ketakwaan terhadap Allah swt,manusia diberikan derajat yang lebih  tinggi dan manusia juga memiliki tanggungjawab terhadap Allah yaitu beribadah  kepada Allah dan menjaga keindahan dan keaslian alam.

3.2     Saran     
1.      Pengembangan IPTEK dan seni dalam islam sebaiknya sesuai dengan syariat islam yang ada.                                                                        
2.      IPTEK dalam islam diharapkan mampu menompang kemajuan kehidupan umat  islam.                                                                                  
3.      Ada bagusnya jika seseorang yang memiliki intelektual yang tinggi memanfaatkan itu dengan sebaik-baiknya sesuai dengan syariat islam.          
4.      Dan sebagai makhluk ciptaan Allah maka wajib bagi kita untuk taat terhadap  apa yang diberlakukan Allah kepada kita yaitu mengerjakan yang ma´ruf dan menjauhkan dari yang mungkar.

  DAFTAR PUSTAKA

               Mansur,hamdan.dkk…2004.Pendidikan agama islam diperguruan tinggi umum.Jakarta;  direktorat perguruan tinggi agama islam departemen agama RI.     


MAKALAH BAHASA INGGRIS


Fisika dan Ruang Lingkup Fisika

Fisika adalah ilmu pengetahuan utama yang berhubungan dengan alam semesta, tenaga yang digunakan satu sama lain, dan menciptakan hasil dari tenaga tersebut. Terkadang, didalam fisika modern lebih mendekatkan pada hal canggih yang diambil dari penggabungan unsur-unsur dari ke-3 bidang yang tercantum di atas. Yang berkaitan dengan hukum simetri dan kekekalan, juga berkaitan dengan energi, momentum, muatan dan keseimbangan.
Fisika berhubungan erat dengan ilmu-ilmu alam yang lain dan dalam arti yang mencakup kimia,misalnya berkaitan dengan interaksi atom untuk membentuk molekul.kebanyakan dari geologi modern,sebagian besarnya mempelajari fisika tentang bumi yang dikenal sebagai geofisika dan astronomi berkaitan dengan bintang dan antariksa.Bahkan sistem kehidupan berasal dari partikel-partikel pokok seperti yang dipelajari dalam biofisika dan biokimia,yaitu mengikuti hukum yang sama dengan hukum partikel yang lebih sederhana yang biasa dipelajari oleh para ahli ilmu fisika.
Penekanan pada interaksi antar partikel dalam fisika modern,dikenal dengan pendekatan mikroskopis,yang harus selalu diikuti dengan pendekatan makroskopis yang berhubungan dengan elemen atau bagian sistem yang lebih besar.pendekatan makroskopis ini sangat diperlukan pada aplikasi fisika terhadap teknologi modern.Termodinamika,contohnya sebuah cabang fisika yang dikembangkan sejak abad ke-19.berkaitan dengan penjelasan dsan pengukuran sifat-sifat suatu sistem secara menyeluruh dan tetap berguna dalam bidang fisika lainnya.juga membentukunsur dasar pada bahan- bahan kimia dan mesin mekanik.seperti pada sifat-sifat yaitu suhu,tekanan dan volume gas yang tidak berarti untuk sebuah atom atau molekul tunggal.Konsep termodinamika hanya bisa diterapkan langsung ke sistem yang sangat besar dari unsur-unsur semacam itu.namun,ada jarak antara pendekatan mikroskopis dan makroskopis ,cabang fisika yang lain yang dienal yaitu mekanik statistik,menunjukkan bagaimana tekanan dan suhu dapat dikaitkan dengan gerak atom dan molekul secara statistik.
Fisika muncul sebagai ilmu yang terpisah pada awal abad ke-19,hingga pada waktu itu ahli fisikawan juga sering menjadi sebagai seorang ahli matematika,filsuf,ahli kimia,ahli biologi,insinyur atau bahkan yang utama adalah sorang politis dan artis.saat ini,bidang tersebut telah  berkembang sedemikian rupa sehingga dengan sedikit perhatian para ahli fisika modern harus membatasi perhatian mereka hanya pada satu atau dua bidang ilmu saja.pada saat aspek dasar bidang baru ditemukan dan dipahami,mereka menjadi insinyur dan ilmuwan terapan lainnya.pada abad ke-19 ditemukan listrik dan kemagnetan.contohnya yaitu sekarang provinsi atau daerah yang memilki listrik yang berhubungan dengan komunikasi.dimana kelengkapan alat yang ditemukan itu pada awal abad ke-20,memakai penerapan alat elektronik dan menemukan fisika nuklir,sebagian besar dari mereka belum genap berusia 40 tahun dan telah diserahkan kepada insinyur nuklir untuk digunakan untuk keamanan dan kegiatan militer.

 Questions:
 1.What is the definition of physics from the passage above?
    Answer: physics is the major science dealing with the fundamental contituents of the universe,the forces they exert on one another,and the results produced by these forces.
2. How is the relationship between physics and other natural sciences?
Answer: physics is closely related to the other natural sciences an in a sense,encompasses them,chemistry for example,deals with the interaction of atoms to form molecules,much of modern geology is largely a study of the physics is known as geophysics and astronomy delas with the physisc of the starts and outer space.
3.What is the advantage of nulear physics??
Answer: at the beginning of the 20th century discoveries of nuclear  physics,most of them not yet 40 years old,have passed inti the hands of nuclear engineers for applications to peaceful or military uses.
4. Explain,how the application of physics by macroscopic approach?
Answer:  macroscopic approach is indispensable to the application of physics to much of modern technoogy.Thermodynamics,for example deals with the elucidation and measurement of properties of a system as whole and remains useful in other fields physics,it also forms the basis of much of chemical and mechanical engineering.
 5. What is the conclusion of paragraph four?Why physics can be separate only in 19thcentury?
Answer: the development of physics emerged as a separate science only in the early 19th .today the field has grown to such an extent that with few exceptions modern physicists have to limit their attention to one or two branches of the science.The 19th century discoveries in electricity and magnetism,for example are now the province of electrical and communication engineers,the properties of matter discoveries at the beginning of the 20th century have been applied in electronics,and the discoveries of nuclear physics,most of them not yet 40 years old,have passed into the hands of nuclear engineers for applications to peaceful or military uses.

MAKALAH TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Teori belajar dan pembelajaran



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
  Manusia dalam memperoleh pengetahuan diantaranya adalah melalui panca indra. Dengan begitu manusia akan lebih mudah mempelajari sesuatu yang sifatnya kongkrit. Walaupun manusia mampu untuk belajar sesuatu yang bersifat abstrak, namun sekali lagi bahwa ia akan lebih mudah dalam mempelajari sesuatu yang dapat ia amati secara langsung dalam kehidupannya. CTL didesain dengan melibatkan siswa mengalami dan menerapkan apa yang diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalah dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggung  jawab mereka sebagai anggota keluarga, masyarakat, warga negara dan tenaga kerja.
CTL lebih menekankan pada pembelajaran dengan model siswa mengkonstruk sendiri pengetahuannya tanpa dominasi transfer ilmu dari guru. Dengan begitu siswa diharapkan akan menjadi terampil dalam memecahkan sendiri segala persoalan dalam kehidupnya kelak.
Terdapat tujuh komponen dalam pembelajaran kontekstual/ CTL, yaitu a) konstruktivisme, b) inquiry, c) questioning, d) learning community, e) Modeling, f) reflection, dan g) authentic assesment. Masing-masing komponen tersebut akan dibahas lebih jelas dalam makalah ini.
Makalah ini secara khusus akan membahas pengertian model pembelajaran kontekstual, dasar pemikirannya, komponen-komponennya, prinsip dasar pembelajaran kontekstual, karakteristik pembelajaran kontekstual, dan penerapan pembelajaran kontekstual. Dalam hal ini, penerapannya dicontohkan dalam materi Fiqih.
Dalam pembahasan ini diharapkan, makalah ini memberikan kontribusi yang berarti bagi dunia pendidikan pada umumnyalebih khusus lagi bagi penulis pribadi yang berkecimpung dalam dunia pendidikan dengan peran sebagai guru.

B.   Rumusan Masalah
 1.   Apakah pengertian dari pembelajaran kontekstual?
 2.  Apakah prinsip pembelajaran kontekstual?
 3.  Apa saja komponen-komponen yang terdapat dalam pembelajaran       kontekstual?
4.  Apa saja karakteristik pembelajaran kontekstual?
  5.  Apakah kelebihan dari pembelajaran kontekstual?
    6.  Apakah kelemahan dari pembelajaran kontekstual?
   7.  Bagaimana penerapan pembelajaran kontekstual?                   

C  Tujuan Penulisan
                                 1.   Mengetahui pengertian dari pembelajaran kontekstual
                       2. Mengetahui prinsip pembelajaran kontekstual
3.    Mengetahui komponen-komponen yang terdapat dalam pembelajaran  kontekstual
4.    Mengetahui karakteristik pembelajaran kontekstual
5.  Mengetahui kelebihan dari pembelajaran kontekstual
6.    Mengetahui kelemahan dari pembelajaran kontekstual
7.    Mengetahui penerapan pembelajaran kontekstual
BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Model Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran Kontekstual merupakan konsep belajar yuang membantu para guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dalam konsep ini, hasil pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan peserta didik bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Proses pembelajaran  lebih dipentingkan daripada hasil.
Pembelajaran kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menekankan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong peserta didik untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya, 2005:109)
Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus kita pahami. Pertama, pembelajaran kontekstual menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik untuk menemukan materi. Artinya, proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks pembelajaran kontekstual tidak mengharapakan agar peserta didik hanya menerima pelajaran, tetapi yang diutamakan adalah proses mencari dan menemukan sendiri semua materi pelajaran. Kedua, pembelajaran kontekstual mendorong agar peserta didik dapat menemukan hubungan antara materiyang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata. Artinya, peserta didik dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar disekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting sebab hal ini dengan dapat mengkorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, materi yang dipelajarinya akan lebih bermakna secara fungsional dan tertanam erat dalam memori peserta didik sehingga tidak akan mudah terlupakan. Ketiga, pembelajaran kontekstual mendorong peserta didik untuk dapat menerapkan pengetahuannaya dalam kehidupan. Artinya, pembelajaran  kontekstual tidak hanya mengharapkan peserta didik dapat memahami materi yang dipelajarinya, tetapi bagaimana materi itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam konteks pembelajaran kontekstual tidak untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan, tetapi sebagia bekal bagi mereka dalam kehidupan nyata.
Sumber:Pembelajaran Tematik(Konsep dan Aplikasi), 2017:100-121
                                                                                               
B.       Prinsip Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual memiliki beberapa prinsip dasar. Adapun prinsip-prinsip dalam pembelajaran kontekstual menurut Suprijono (2011: 80-81) adalah sebagai berikut. 
1.      Saling ketergantungan, artinya prinsip ketergantungan merumuskan bahwa kehidupan ini merupakan suatu sistem. Lingkungan belajar merupakan sistem yang mengitegrasikan berbagai komponen pembelajaran dan komponen tersebut saling mempengaruhi secara fungsional.
2.      Diferensiasi, yakni merujuk pada entitas-entitas yang beraneka ragam dari realitas kehidupan di sekitar siswa. Keanekaragaman mendorong berpikir kritis siswa untuk menemukan hubungan di antara entitas-entitas yang beraneka ragam itu. Siswa dapat memahami makna bahwa perbedaan itu rahmat. 
3.      Pengaturan diri, artinya prinsip ini mendorong pentingnya siswa mengeluarkan seluruh potensi yang dimilikinya. Ketika siswa menghubungkan materi akademik dengan konteks keadaan pribadi mereka, siswa terlibat dalam kegiatan yang mengandung prinsip pengaturan diri.
Selanjutnya, Sumiati dan Asra (2009: 18) menjelaskan secara rinci prinsip pembelajaran kontekstual sebagai berikut:
1.      Menekankan pada pemecaham masalah;
2.      Mengenal kegiatan mengajar terjadi pada berbagai konteks seperti rumah, masyarakat, dan tempat kerja;
3.      Mengajar siswa untuk memantau dan mengarahkan belajarnya sehingga menjadi pembelajar yang aktif dan terkendali;
4.      Menekankan pembelajaran dalam konteks kehidupan siswa;
5.      Mendorong siswa belajar satu dengan lainnya dan belajar bersama-sama;
6.      Menggunakan penilaian otentik.
Lain halnya dengan Nurhadi, ia mengemukakan prinsip-prinsip pembelajara kontekstual yang perlu diperhatikan guru, yakni: 
(1)       merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran mental sosial,
(2)       membentuk kelompok yang saling bergantung,
(3)       menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran yang mandiri,
(4)        mempertimbangkan keragaman siswa,
(5)        mempertimbangkan multi intelegensi siswa, 
(6)       menggunakan teknik-teknik bertanya untuk meningkatkan pembelajaran siswa, perkembangan masalah, dan ketrampilan berpikir tingkat tinggi,
(7)       menerapkan penilaian autentik. Penilaian autentik merupakan antitesis dari ujian stanar, penilaian autentik memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka pelajari
 Merujuk pada prinsip-prinsip di atas, maka pembelajaran kontekstual berorientasi pada upaya membantu siswa untuk menguasai tiga hal, yakni:
(1)              pengetahuan, yaitu apa yang ada di pikirannya membentuk konsep, definisi, teori, dan fakta;
(2)              Kompetensi atau keterampilan, yaitu kemampuan yang dimiliki untuk bertindak atau sesuatu yang dapat dilakukan;
(3)              Pemahaman kontekstual, yaitu mengetahui waktu dan cara bagaiman menggunakan pengetahuan dan keahlian dalam situasi kehidupan nyata.

                                 Sumber:http://duniadesisrini.blogspot.com/2017/10/makalah-pembelajaran-kontekstual.html
C.  Komponen pembelajaran kontekstual
Penerapan pembelajaran kontekstual ini memiliki 7 (tujuh) komponen utama pembelajaran efektif. Ketujuh komponen ini adalah sebagai berikut:
1. Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah mengembangkan pemikiran siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara belajar sendiri, menemukan sendiri, dan mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. Siswa membangun pemahaman  mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal. Dan pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan.
Terdapat 5 (lima) elemen belajar yang konstruktivistik, yaitu (1) pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge), (2) pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge), (3) pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), (4) mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman (applying knowledge), dan (5) melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut (reflecting knowledge). 
2. Inquiry
Inquiry (menemukan),  yaitu melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik. Siswa diminta untuk menangani sendiri permasalahan yang mereka hadapi ketika berhadapan dengan dunia nyata.Dalam pembelajaran ini terdapat proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman serta siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis.
3. Questioning (Bertanya)
Bertanya, yaitu mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan cara bertanya. Melalui cara ini, siswa akan mampu menjadi pemikir yang handal dan mandiri. Siswa dirangsang untuk mengembangkan idenya dan pengujian baru yang inovatif, mengembangkan metode dan teknik untuk bertanya, bertukar pendapat dan berinteraksi.Dengan kegiatan bertanya ini , guru mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa.
4. Learning Community (Masyarakat Belajar)
Masyarakat belajar yaitu menciptakan masyarakat belajar dalam suatu kelompok. Siswa hidup dalam lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolahnya, sehingga ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya untuk mengembangkan pembahaman pembelajaran kontekstual. Misalnya dalam pembelajaran kontekstual siswa diajak ke sawah untuk melihat langsung bagai mana proses penanaman padi hingga panen dan menjadi beras.Dalam pembentukan masyarakat belajar  terdapat konsep bahwa bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri, tukar pengalaman, dan berbagi ide.
5. Modeling (Pemodelan)
Pemodelan adalah menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran. Siswa menjadi mudah dalam belajar dan memahami  jika guru menyajikan baginya sebuah model bukan hanya berbentuk lisan. Siswa akan mampu mengamati dan mencontoh apa yang ditunjukkan oleh guru.
6. Reflection (Refleksi)
Refleksi, yaitu melakukan refleksi akhir pertemuan pembelajaran. Refleksi ini merupakan ringkasan dari materi pembelajaran yang telah disampaikan guru. Siswa mengungkapkan secara tulisan maupun lisan apa yang telah mereka pelajari. Dalam menyimpulkan siswa dapat melakukannya dalam bentuk catatan apa yang telah dipelajari atau  membuat jurnal, karya seni, dan /atau diskusi kelompok
7. Authentic Assesment (Penilaian yang sebenarnya)
Penilaian sebenarnya, yaitu melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara. Tujuannya adalah mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa melalui penilaian produk (kinerja) atau tugas-tugas yang relevan dan kontekstual.
D.   Karakteristik pembelajaran kontekstual
Pembelajaran kontekstual memiliki karakteristik sebagai berikut :
a)      Kerjasama
b)      Saling menunjang
c)      Menyenangkan
d)     Tidak membosankan
e)      Belajar dengan bergairah
f)       Pembelajaran terintegrasi
g)      Menggunakan berbagai sumber
h)      Siswa aktif
i)    Sharing dengan teman
j)        Siswa kritis, guru kreatif
k)      Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dll
l)        Laporan kepada orang tua bukan hanya raport, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dll.

E.   Kelebihan dari Pembelajaran Kontekstual
a) Peserta didik mampu menghubungkan teori dengan kondisi di lapangan yang sebenarnya.
b) Peserta didik dilatih agar tidak tergantung pada menghapal materi
c) Melatih peserta didik untuk berpikir kritis dalam meghadapi suatu permasalahan
d) Melatih peserta didik untuk berani menyampaikan argumen, bertanya, serta menyampaikan hasil pemikiran
e) Melatih kecakapan interpersonal untuk berhubungan dengan orang lain.
                                    
 F.   Kelemahan dari Pembelajaran Kontekstual
a)      Membutuhkan waktu lama dalam pelaksanaannya
b)      Membutuhkan banyak biaya

                                 Sumber:http://duniadesisrini.blogspot.com/2017/10/makalah-pembelajaran-kontekstual.html

G. Penerapan pembelajaran kontekstual
Pembelajaran kontekstual dapat diterapkan pada materi pelajaran yang sesuai dengan karakteristiknya. Penerapan pembelajaran kontekstual ini lebih cocok untuk materi-materi pelajaran yang mudah ditemui/ diamati dalam kehidupan dunia nyata.
Pembelajaran kontekstual dapat juga diterapkan dalam materi Pendidikan Agama Islam (PAI). Misalkan saja pembelajaran tentang materi Fikih dalam bab muamalah, maka guru dapat mengajak siswanya untuk pegi ke pasar dan mengamati bagaimana trasnsaksi jual beli itu berlangsung. Dengan modal pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya, siswa akan mengkonstruksi pengetahuan barunya. Dengan begitu siswa akan lebih memahami bagaimana penerapan muamalah yang benar sesuai dengan materi yang ia terima dari gurunya. Pada sesi akhir pembelajaran, guru bersama para siswa melakukan kesimpulan dari hasil pembelajaran tersebut.
      
BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
Model pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching And Learning / CTL) merupakan suatu konsepsi yang membantu guru dalam proses pembelajaran dengan mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan motivasi siswa yang membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, masyarakat, warga Negara dan tenaga kerja. Pembelajaran kontekstual/ CTL didasarkan pada filosofis paham konstruktivisme yang menekankan siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis yang mereka terima, dan mereka menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah jika mereka bisa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya.
Pembelajaran kontekstual ini memiliki 7 (tujuh) komponen utama yaitu, a) konstruktivisme, b) inquiry, c) questioning, d) learning community, e) Modeling, f) reflection, dan g) authentic assesment.
Prinsip dasar pembelajaran kontekstual adalah : 1) penekanan pada pemecahan masalah; 2) pengenalan pembelajaran berbagai konteks; 3) pemantauan dan pengarahan belajar aktif dan terkendali; 4) penekanan pembelajaran dalam konteks kehidupan siswa; 5) mendorong siswa belajar bersama; 6) penilaian otentik. Pembelajaran kontekstual dapat membantu siswa menguasai tiga hal, yaitu : pengetahuan, kompetensi/ keterampilan, dan pemahaman kontekstual.
Pembelajaran kontekstual memiliki karakteristik sebagai berikut : a) kerjasama, b), saling menunjang, c) menyenangkan, d) tidak membosankan, e) belajar dengan bergairah, f) pembelajaran terintegrasi, g) menggunakan berbagai sumber, h) siswa aktif, i) sharing dengan teman, j) siswa kritis, guru kreatif, k) dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, l) laporan kepada orang tua bukan hanya raport, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dll.
Penerapan pembelajaran kontekstual ini lebih cocok untuk materi-materi pelajaran yang mudah ditemui/ diamati dalam kehidupan dunia nyata. Pembelajaran kontekstual dalam materi Pendidikan Agama Islam (PAI), misalkan saja pembelajaran tentang materi Fikih dalam bab mua>malah, maka guru dapat mengajak siswanya pegi ke pasar dan mengamati bagaimana trasnsaksi jual beli itu berlangsung. Dengan begitu siswa akan lebih memahami bagaimana penerapan muamalah yang benar sesuai dengan materi yang ia terima dari gurunya. Pada sesi akhir pembelajaran, guru bersama para siswa melakukan kesimpulan dari hasil pembelajaran tersebut.

B.       SARAN
Dengan mengetahui kelemahan dan kelebihan pada pembelajaran kontekstual ini, maka guru dapat memilih materi mana yang cocok untuk digunakan dalam model pembelajaran kontekstual, sehingga dapat membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA

 Desisrini. 2017. Makalah Pembelajaran Kontekstual (online),

Anonim. 2015. Model Pembelajaran Kontekstual (online),